GALERI MADRASATUL QURAN |

Sosial merupakan salah satu upaya dalam proses pemindahan ide dan gagasan dari masyarakat ke individu. Seutuhnya, dengan tindakan sosial di lingkup umum tertentu dapat meningkatkan pengetahuan dalam kepribadian, tingkah laku, sopan santun, aturan, dan identifikasi yang berlaku di masyarakat. Proses sosialisasi seharusnya ditumbuhkan sejak kecil. Misal seorang anak lahir dan mendapatkan kasih sayang oleh orang tuanya. Itu merupakan salah satu contoh sosial di lingkup keluarga. Barulah kita dengan bertambahnya usia dapat bersosial di lingkup yang lebih tinggi lagi.

Tujuan dari bersosial ialah agar setiap anggota baik individual maupun umum mengetahui nilai-nilai norma yang berlaku di lingkup yang ia pijak saat ini. Yang individu pun dapat mengendalikan fungsi kepribadian dirinya dengan melatih diri secara tepat di suatu anggota. Hal itu pun dapat memunculkan hak hidup yang tepat ditengah masyarakat. Dengan penghayatan dan kesadaran individu sehingga kelompok yang terlibat dalam individu itu dapat menerima mereka menjadi salah satu anggota dari mereka. Hal inilah yang dapat mempertahankan keutuhan masyarakat demi terwujudnya suatu tujuan yang amat diharapkan.

Manfaat dari bersosialisasi ialah dapat mengurangi stres secara individu. Mungkin hal ini tampak sepele diantara orang-orang lain. Tapi upaya ini pula dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada seseorang yang mengalami tindakan sosial. Bahkan, orang yang melakukan tindakan sosial dapat mencegah dari berbagai penyakit mental. Salah satunya Demensia. Maka dari itu sosial sangatlah penting dalam menjaga kesehatan tubuh, mental, maupun pikiran.

Bersosial memiliki hal yang positif di dalamnya. Diantaranya dapat berpotensi memunculkan nilai dan norma baru dalam bermasyarakat. Upaya itu merupakan inti dari berbagai cabang upaya-upaya bersosial lainnya. Seperti kesetaraan dalam menindaki gender bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak asasi yang sama sebagai manusia. Dalam perbedaan tersebut dapat mengacu berkembangnya lembaga-lembaga yang dapat mendukung kesetaraan bersosial. Seperti meningkatnya pendidikan islam dan non Islam di antara masyarakat garis besar. Maka pihak beragama secara sadar menjaga kebebasan dalam beragama.

Tapi dari sekian banyaknya dampak positif bersosialisasi, terdapat sisi negatif di dalamnya. Adanya gejala sosial di sekitar berpotensi dapat menimbulkan kerusakan alam akibat tindak tiru yang tidak baik oleh seseorang. Kerapatan sosial yang hebat dapat mengakibatkan tiru meniru dari seseorang ke orang lainnya semakin tinggi. Seperti kerusakan kebun pisang akibat ulah remaja yang meniru video viral memukul pohon pisang hingga tumbang. Tak hanya itu, perilaku menyimpang juga kerap terjadi dalam bersosial akibat sumber daya manusia yang berkurang. Seperti terjadinya pencurian akibat tingginya tingkat kemiskinan suatu daerah. Hal ini dapat memicu konflik yang cukup berat dari individu ke individu yang lainnya. Akibatnya terjadinya perpecahan.

Sosial yang baik harus kita cerminkan sejak kecil. Sebagai bekal sosial yang lebih besar di masyarakat secara luas nantinya. Contoh sosial yang sering diremehkan oleh masyarakat tapi berdampak sangat besar adalah penggunaan sampah. Secara sadar atau tak sadar, sehari maupun sejam kita tak tau berapa barang yang berujung menjadi sampah kita gunakan setiap waktu. Dalam hal kecil membeli jajan di kantin. Kalian membeli nasi bungkus, minuman dingin berbungkus plastik, maupun jajanan ringan lainnya pada waktu istirahat. Selesai memakan dan meminumnya, apakah kalian membuangnya di tempat sampah? Nah, maka dari sinilah pentingnya mengingatkan teman yang sengaja maupun tak sengaja membuang sampah sembarangan. Tindakan tersebut merupakan salah satu upaya dalam bersosial di lingkup sekolah. Belum kita nanti terjun di masyarakat secara luas. Sosial merupakan langkah pertama untuk mewujudkan suatu tujuan yang diimpikan.

Di Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an ini, bersosial merupakan salah satu cerminan santri yang berkualitas. Tak mungkin santri saling mengenal tanpa adanya perkenalan terlebih dahulu. Tak ada buka bersama di dalam pesantren tanpa adanya persetujuan bersama. Santri yang baik merupakan cerminan dari santri yang benar. Sebaliknya, santri yang benar merupakan cerminan dari santri yang baik. Untuk saling melengkapi, maka perlu adanya interaksi dan selalu membaur demi terwujudnya santri yang baik dan benar.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: