GALERI MADRASATUL QURAN |

Annisa tak dapat menahan air matanya. Ketika ia memandangi lautan biru yang sejuk dan damai. Air mata sudah membasahi pipi mungilnya. Rambutnya yang indah terurai karena angin kencang. Dia tengah menyoroti sebuah kapal putih besar yang sedang berlayar menuju ke arah barat, berlawanan dengan posisi Annisa sekarang. Bila di difusi lagi, terlihat sepasang suami istri yang melambaikan tangan ke Annisa. Annisa merasa sangat kehilangan oleh kedua insan yang sangat dia sayangi dan cintai. Cintanya tak dapat terganti, hanya sepasang malaikat itulah dia mencurahkan isi hatinya kepada mereka.

Annisa membalikkan badan, tepat di depan hidungnya berdiri seorang pria tinggi nan gagah. Dia bernama Kasman, satu-satunya adik ayahnya Annisa yang dipercaya oleh ayahnya Annisa dapat menjaga Annisa dengan baik. Dia tersenyum miris terhadap Annisa, mengetahui suasana hati Annisa yang tengah hancur berantakan. Di sampingnya, berdiri seorang wanita ideal yang cantik rupawan. Dia bernama Bella, satu-satunya istri Kasman yang sangat ia cintai. Dia tengah tersenyum melas, sama-sama merasakan kesedihan amat mendalam yang dialami Annisa.

Annisa pun menunduk, tak dapat menampung kesedihan yang dia alami. Orang tuanya tengah pergi menuju ke pulau seberang yang amat jauh jaraknya, hanya untuk menjalankan tugas sebagai pegawai tangan kanan pemerintah. Annisa pun memeluk pamannya. Dia dekap perasaannya dan menghabiskan kesedihannya untuk saat ini juga. Berharap kesedihan selanjutnya tak terjadi lagi. Kasman dan Bella hanya bisa mengelus lembut rambut kusutnya Annisa, mungkin inilah cara agar hatinya lebih tenang dari sebelumnya. Pada momen inilah awal mula dari sebuah cerita. Dan mereka tak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di malam hari, ketika bulan purnama bersinar terang. Bintang-bintang bersinar memulai barisan. Angin sepoi-sepoi menyelalang di setiap pepohonan pinggir jalan yang tersusun rapi. Jalanan kota terlihat sepi tak berkehidupan. Denting jam terdengar menggema di setiap celah ruangan. Jarum jam menunjukkan pukul 00:45 WIB. Dan Annisa, tertidur pulas di atas kasurnya yang empuk.

Di sisi lain, Annisa tengah duduk di kursi meja makan. Di hadapannya tersaji beberapa makan kesukaannya. Ibu dan ayahnya turut hadir di situ. Akan tetapi, berbeda daripada sebelumnya. Wajah yang penuh akan keceriaan, berganti menjadi kesedihan. Annisa tak menyadari hal itu. Ia tetap menikmati makanan yang berada di sekitarnya.

Tiba-tiba, kursi yang diduduki Annisa mundur entah kenapa. Membuat Annisa ikut mundur dan menjauh dari meja makan. Dia hendak berteriak, akan tetapi tertahankan karena lampu sorot yang menyinari meja makan mati. Yang di sanalah ibu dan ayah Annisa berada. Kursinya semakin mundur menjauhi tempat itu. Tak lama kemudian, kursi yang diduduki Annisa berhenti tiba-tiba. Membuat Annisa jatuh terhempas di lantai gelap dan beku. Annisa terpaku di sana. Tak ada satu pun cahaya yang menerangi dirinya.

Terdengar suara ombak yang tenang mendekat ke arah Annisa. Annisa langsung teringat suasana pelabuhan yang dikunjunginya tadi sore. Begitu tenang dan damai. Tak hanya itu, dia mendengar suara klakson kapal yang memekakkan telinga Annisa. Dan, yang benar saja. Terlihat sebuah kapal besar berlayar mendekati Annisa yang terpaku. Annisa yang menyadari akan hal itu, panik dan bingung akan melakukan apa. Annisa mencoba memundurkan dirinya perlahan, berharap dirinya dapat menghindar dari kapal tersebut. Tetapi usahanya terbuang sia-sia. Dia malah terpojokkan di sebuah dinding besar gelap dan beku. Annisa tak dapat melakukan apa-apa. Dia pun pasrah kepada Tuhan.

Sudah lama dia berada di dinding beku itu. Dan kapal yang sejak dari tadi berlayar menujunya semakin dekat. Berkali-kali Annisa mengucapkan segala doa yang dapat mencegah kejadian tak diinginkannya. Tiba-tiba, sekilat cahaya muncul di hadapan Annisa. Cahayanya yang sangat terang, membuat Annisa tak dapat melihat apa pun yang ada di hadapannya. Cahaya itu terus berada di hadapannya, seperti sedang menghadap dan mengawasi Annisa. Lalu, kapal yang sejak tadi berlayar menuju Annisa menabrak cahaya itu. Suara tabrakan itu seperti suara kapal Titanic yang menabrak bongkahan es. Sehingga kapal itu hancur dan tenggelam di lantai yang amat dingin dan gelap.

Seketika itu, Annisa melompat dari tidurnya. Spontan dia langsung duduk di atas kasur. Napasnya terengah-engah, keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Kini, dia sadar dari mimpinya. Dia melihat sekitar kamarnya dalam kegelapan. Jarum jam menunjukkan pukul 01:15. Terdengar suara rintikan air, tanda akan hujan dini hari ini. Terlihat pintu kamar Annisa terbuka. Sebuah cahaya redup bersinar di balik pintu itu. Annisa pun penasaran. Maka, dia memutuskan untuk mendekati pintu itu.

Selangkah, dua langkah, dan akhirnya dia sampai di depan pintu kamarnya. Dia membuka lebar pintu itu. Dan yang ia lihat adalah sebuah lilin menyala dengan apinya yang menari-nari. Dia mendekati lilin itu perlahan. Tepat di balik lilin kecil itu, terpajang sebuah cermin besar yang memantulkan cahaya lilin kemana-mana. Dia berdiri tepat di hadapan lilin dan cermin itu. Dia pandang dirinya di dalam cermin itu. Melihat betapa berantakannya dirinya kini. Setelah ditinggal oleh orang tuanya.

Tak lama ketika dia memandangi dirinya di cermin, munculah sebuah cahaya biru yang tinggi semampai berada di belakangnya. Akan tetapi, Annisa tak menyadari hal itu. Cahaya biru redup itu semakin dekat dengan Annisa. Annisa masih memandangi tubuh berantakan nya yang berada di kehampaan ruang dan waktu. Cahaya biru itu mendekati lilin, dan meniupnya. Hanya kegelapan yang dirasakan oleh Annisa saat ini.

Bersambung…..


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: