GALERI MADRASATUL QURAN |

(Sebuah cerita penerus Pada Malam Ini) “Nis… Nis. Bangun” Suara samar-samar terdengar di telinga Annisa. Annisa pun terbangun, dengan posisi tidur berada di lantai. Dia pun duduk dari terbaringnya. Dengan pandangan yang masih samar-samar, Annisa memfokuskan objek yang ada di hadapannya. Rupanya bibinya.

“ Kamu kok bisa tidur di sini?” Cetus bibinya yan g terheran-heran melihat Annisa tergelepar di lantai semalaman. “ Mmm… Apa yang terjadi?” Ucapnya lirih sambil bangkit untuk berdiri. Bibinya pun serta merta untuk berdiri. Annisa hanya diam tak berdaya. Bibinya pun menyentuh jidatnya perlahan. “Eh…. Kamu panas banget Nis. Mukamu juga kelihatan pucet. Ayo aku antarin ke kamar. Nanti izin nggak masuk sekolahnya bibi urusin” Ucap lancang bibi sambil mengantarkan Annisa ke kamarnya.

“Tapi bibi, ayah dan ibu…….” Annisa menghentikan ucapannya. Dia pun menitikkan air matanya. Dia redap semua yang ia lihat kemarin malam. Dia pun dengan segera mendekap bibinya dengan erat. “Jawab yang jujur bibi……. ayah dan ibu tiada kan….” ucap rengek Annisa di pelukan bibinya. Bibinya hanya terdiam, tak dapat berkata apa-apa. Hanya dapat memeluk Annisa dan membelai rambutnya dengan lembut. “Bibi jujur…… jujurlah bi. Ibu dan ayah….. Meninggal kan” ucapnya seketika menghentikan waktu. Jantung bibinya berdetak sangat kencang. Hampir terdengar oleh Annisa yang berada dalam pelukannya.

Bibinya menghela napas panjang-panjang. “Nis. Tadi, bibi dapat kabar dari televisi. Bahwa kapal yang di naiki ibu dan ayahmu itu tenggelam karena pecah. Paman sekarang sedang berada di tempat pengevakuasian jenazah dan puing-puing. Mohon bersabar ya Nis. Barangkali ibu dan ayahmu masih hidup. Doakan saja mereka, semoga mereka baik-baik saja” ucap lembut bibi Annisa. Bibinya pun melihat Annisa, rupanya dia sedang tertidur di pelukan bibinya.

“Ya Ampun Annisa” seru lirih bibinya. Bibinya pun menggendong Annisa yang berbadan cungkring dan kecil itu ke kamarnya. Dengan perlahan bibinya menaruh Annisa ke kasur. “Kasihan Annisa. Masih kecil sudah di tinggal oleh ayah ibunya” ucap lirih bibinya. Handphone milik bibi Annisa tiba-tiba berdering. Menandakan sebuah panggilan masuk. Bibi Annisa pun mengangkat panggilan tersebut.

“Dek, jasad ayah sama ibu Annisa sudah ketemu. Kira-kira besok bisa di kuburkan. Nanti kalau ada apa-apa sama Annisa tolong kabarkan ya Dek” ucap paman Annisa dari seberang sana. “Ya mas” jawab bibi Annisa dengan lembut. Maka panggilan pun di putus. Bibi Annisa melanjutkan membelai rambut Annisa.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: