GALERI MADRASATUL QURAN |

Di suatu pondok yang cukup terkenal di Jombang Bernama Madrasatul Qur’an. Tinggallah seorang santri yang bernama Ahmad Reza, panggil saja dia Aza. Dia berasal dari Banten, kota yang terkenal dengan seni bela diri Debus-nya. Disanalah orang tuanya mengubur kulit arinya. Kota yang penuh dengan kasih sayang, terutama ibunda.

Di pondok dia tak sendiri, ada banyak teman yang senantiasa menemaninya dikala dia sedih maupun senang. Mereka adalah Rian, Zaka, Firza, dan Muham. Mereka adalah sebuah persahabatan karib yang tak ada satupun orang yang dapat memecah belah hubungan kebersamaan mereka. Walaupun lika liku pengalaman pondok yang begitu menyakitkan, mereka saling membantu dikala ada yang tersakiti ataupun terhina.

Pernah di suatu malam, Ketika pondok pesantren melakukan istirahat malam. Aza tengah mengaji sendirian di masjid untuk menyiapkan setorannya di esok hari. Suasana malam begitu hening dan mencekam. Bulan purnama yang tertutup oleh mendung gelap, membuat malam terasa dingin. Aza yang terlihat sangat mengantuk memutuskan untuk ke belakang untuk mengambil air wudhu.

Dia menelusuri masjid yang sangat hening dan senyap. Santri lainnya yang berada di sana telah tertidur pulas beralaskan sajadah maupun selimut yang mereka bawa dari kamar. Tak ada satupun santri yang bangun di antara santri yang tertidur.

Terdengar suara tetesan air yang menggema di seluruh ruangan tempat berwudhu. Angin dingin menusuk kulit Aza, membuat ia merasa kedinginan. “Bismillah” ucapnya lirih. Dia pun mulai berwudhu.

Gemericik air terdengar keras di setiap sudut ruang wudhu. Air wudhu sudah membasahi setengah dari tubuh Aza. Dia membasuh mukanya. Satu usap……… dan usapan kedua……… dia terhenti. Ketika ia merasa sesuatu sedang mengawasinya saat ini. Dia menoleh kebelakang. Tak ada satupun orang di sekitarnya. “Mungkin hanya pikiranku” batinnya. Diapun mengusap wajah ketiga kalinya.

traaang….”. Seketika Aza terkejut. Dia spontan menoleh ke belakang. Memastikan bahwa keadaan baik baik saja. “Kirain apa. Untung saja jantungku masih utuh” ucapnya dalam hati. Dia mendesah berat untuk mengatur napasnya yang tersenggal. Diapun berjalan cepat menuju ke maqam Kembali.

Sama seperti sebelumnya, masjid terlihat sangat gelap dan sunyi. Tak ada satupun santri yang masih bangun diantara santri lainnya yang terlelap. Hawa dingin semakin menjadi jadi, membuat tubuh Aza menggigil kedinginan. Dia menelusuri santri yang tidur layaknya ikan tongkol yang dijual di pasaran.

“Za, darimana aja kamu. Ku cariin dari ujung pondok sampai ke penghulu. Kamu nggak ada terus. Kemana aja sih?” sahutan seseorang yang hampir saja mengejutkan Aza, ternyata Rian lah yang tengah mencari Aza. “Habis Wudhu tadi. Udahlah aku mau ke maqam dulu” Jawab Aza tergesa gesa. “Zaka dan lainnya dimana? Tanya Rian Kembali. Aza hanya dapat mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepala. Lalu, Aza pun pergi meninggalkan Rian. “Eeh… tunggu Za!!” Seru Rian sambil mengikuti Langkah Aza.

Beberapa saat kemudian, disaat mereka berdua di maqam. Jam menunjukkan angka 2 lebih 5 menit. Suasana malam semakin mencekam. Bulan purnama bersinar di antara gelapnya malam. Aza yang masih terbangun sambil menghafalkan tambahannya esok merasa sangat mengantuk. Rian sudah sejak dari tadi tidur pulas di pangkuan Aza. Embun pagi mulai terbentuk di seluruh areal maqam. Hawa dingin meningkat lebih dingin daripada sebelumnya.

Aza……Aza” terdengar seseorang seperti sedang memanggil Aza. Aza pun langsung terbangun dari tidur nya. Menoleh kesana kemari untuk mengetahui sumber suara itu berasal. Suara itu terdengar sangat dekat. Bahkan terasa seperti sedang berada di sampingnya. “Siapa!!” Aza memberanikan diri untuk menyahut pelan suara itu. Akan tetapi suara itu masih terdengar jelas. Lambat laun, suara itu mulai menjauh dan menghilang. Akan tetapi, entah darimana angin tiba tiba berhembus kencang melewati Aza. Bulu kuduk Aza meremang. Ia tak tau apa yang harus dia lakukan agar tidak membuat Rian terbangun.

Terasa seperti seseorang berada di samping Aza. Dia terlihat samar samar wajah itu dari balik kelopak mata. Dia melirik perlahan. Napasnya tersenggal senggal tak beraturan. Suara berat terdengar jelas di samping Aza. Aza tak kuat melihatnya. Tetapi bagaimana lagi. Dia secara sangat perlahan melirik dan menoleh ke arah seseorang itu.

Deg!! .Dia menoleh ……… dan…… sesosok ……… pocong … dengan…. Wajah…… penuh belatung……tengah menatap Aza…… menggunakan ……mata……buntungnya……Aza berteriak dalam hati. Mematung disana dan tak dapat bergerak. Berkali kali dia menahan posisi agar Rian tak terbangun. Lisannya berusaha membaca doa doa, berharap pocong itu segera pergi di hadapannya. Dia memejamkan matanya erat erat. Tak kuat melihat wajah hancur pocong itu.

Seketika itu, adzan shubuh sudah berkumandang. Aza terbangun dari tidurnya karena seseorang membangunkannya. Rian, dia lah yang membangunkan Aza.

Setelah itu, Aza sama sekali tak berani bercerita ke temannya. Terutama Rian. Walau dia tak tau apakah kejadian itu nyata atau hanya mimpi buruk yang sempat lewat. Berkali kali Rian dan teman teman lainnya curiga. Mengapa Aza sudah tak pernah tidur malam malam. Malahan dia lebih awal tidur daripada teman lainnya.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: